Kamis, 27 Oktober 2011

MUSIBAH dan TAKDIR

( untuk mas susilo bambang yudhoyono )

awan kelabu menutup bumi itu tidak lagi melahirkan hujan
tapi melahirkan banyak air mata
yang tidak akan pernah berhenti mengalir
sanggupkah kita menghentikan duka yang datang tiba tiba
ketika insan dan para pemimpin negara
tewas
dalam undangan
berbungkus persahabatan

anak bangsa terbaik telah pergi
dengan cara mengenaskan
dunia berkabung dengan serpihan
paku mur dan gotri
mengalirkan kesedihan dan kebencian
ketika seorang tua dengan sekarung bom melintas dengan sepeda
didepan podium singgasana
menekan sebuah tombol yang tidak bersalah
tapi
melahirkan petaka airmata
yang tidak akan pernah berhenti mengalir
hanya karena satu kesalahan kita
atau sekedar musibah biasa ?







1 komentar:

  1. mas sby, puisi lahir ketika aku teringat seorang tua didaerah bekasi dengan sepeda membawa sekarung bom ditangkap polisi, dan kejadian seperti ini seakan terulang di pulau bali, apa yang terjadi atas sebuah kelalaian itu ?

    BalasHapus