tiba tiba insomnia datang bertamu
mengganggu perjalananku
perjalanan pemimpi di istana malam
sepi pun terbang dengan gemuruh kepak sayapnya
desir angin yang biasa melantunkan nyanyian kalbu
berubah menyayat hati
malam ini tidak ada lagi nuansa
tidak ada kepedulian
selain tangis yang timbul disekujur tubuh
selain mulut yang menghitung sampai seribu
selain telinga mendenging ditelan detak detak jam dinding
dan nafas puisiku berhenti mengalir
tangis telah menjeratnya
lelah jiwa tersungkur
tak sanggup mencari bayang bayangku
yang bercampur
dalam suka dan dukamu
mungkinkah cinta yang terpendam lama
telah kau iris dan buang jauh
karena kau ingin hidup sendiri
sebagai bukti sayangmu pada almarhum
kang jaimin belum berakhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar